Senin, 26 Maret 2012

Kata Kata Bijak

Kita tidak bisa menjadi bijaksana dengan kebijaksanaan orang lain, tapi kita bisa berpengetahuan dengan pengetahuan orang lain.


Di samping merupakan sebuah seni yang indah untuk melakukan sesuatu, ada juga seni yang indah untuk membiarkan sesuatu tidak dilakukan. Kebijaksanaan hidup terletak dalam pengabaian apa-apa yang tidak penting.

Di dalam kepala yang dipenuhi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan sedikit sekali ruangan tersisa bagi kecongkakkan.


Ambillah hikmah (kebijaksanaan) dari manapun datangnya.

Kecantikan adalah kebijaksanaan seorang wanita. Kebijaksanaan adalah kecantikan seorang pria.


Keutamaan akal ialah hikmah kebijaksanaan, dan keutamaan hati ialah keberanian.

Awal kebijaksanaan adalah memanggil sesuatu dengan namanya yang benar.


Seni menjadi bijaksana adalah tahu apa yang harus diabaikan.

Seorang suami yang bijaksana dan seorang istri yang sabar berarti sebuah rumah yang nyaman dan kehidupan yang bahagia.


Poleslah kebijaksanaan anda: pelajari kebijaksanaan umum, bedakan antara baik dan jahat, pelajari berbagai falsafah berbagai seni satu demi satu. Ketika tidak dapat dibohongi orang lain, berarti anda sudah memahami kebijaksanaan strategi.

Jangan takut dengan kesalahan. Kebijaksanaan biasanya lahir dari kesalahan.


Mengenal orang lain adalah kebijaksanaan, mengenal diri sendiri adalah pencerahan.

Ada waktunya dimana seseorang akan membedakan pemikiran tentang kebahagiaan dengan pemikiran tentang kekayaan; itu adalah awal dari kebijaksanaan.


Sesuatu yang besar dilakukan lebih melalui keberanian daripada melalui kebijaksanaan.

Orang yang baik adalah baik karena mereka menjadi bijaksana karena kegagalan. Kita mendapat sangat sedikit kebijaksanaan dari kesuksesan, anda tahu.


Kebijaksanaan membuat mereka beradaptasi dengan lingkungan, seperti air mengikuti bentuk tempatnya.

Setiap orang bijaksana sampai dia berbicara.


Kejujuran adalah kebijaksanaan yang terbaik.

Orang bijaksana selalu melengkapi kehidupannya dengan banyak persahabatan.


Wanita lebih bijaksana dari laki-laki karena mereka tahu lebih sedikit tetapi mengerti lebih banyak.

Mengeti adalah tahu apa yang akan dilakukan; kebijaksanaan adalah tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya; keberanian adalah benar-benar melakukannya.


Kesuksesan membuat sesuatu yang bodoh kelihatan bijaksana.

Tuhan, beri saya keberanian untuk mengubah apa yang dapat dan harus diubah, ketenangan untuk menerima apa yang tidak dapat diubah, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.


Seorang laki-laki yang bodoh mengatakan kepada wanita untuk berhenti berbicara, tetapi seorang laki-laki yang bijaksana mengatakan kepadanya bahwa mulutnya sangat manis ketika bibirnya tertutup.

Rasa mengasihani diri adalah musuh kita yang paling buruk dan jika kita takluk padanya, kita tidak akan pernah melakukan sesuatu yang bijaksana di dunia ini.


Orang yang bijaksana tidak dapat menjawab pertanyaan yang paling bodoh.

Setelah memenangkan perdebatan dengan istrinya, hal paling bijaksana yang dapat dilakukan seorang laki-laki adalah meminta maaf.


Kebijaksanaan dan keberanian adalah seperti dua roda pada gerobak.

by Facebook Comment

Kata mutiara Kahlil Gibran bertajuk tentang cinta

Cinta tidak menyedari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan pun tiba. Dan saat tangan laki-laki menyentuh tangan seorang perempuan mereka berdua telah menyentuh hati keabadian.


Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia kerana cinta itu membangkitkan semangat- hukum-hukum kemanusiaan dan gejala alami pun tak mampu mengubah perjalanannya.

Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang


Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.

Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati; tetapi kita lari daripadanya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan; atau yang lain mengejarnya, untuk berbuat jahat atas namanya.


Setiap lelaki mencintai dua orang perempuan, yang pertama adalah imaginasinya dan yang kedua adalah yang belum dilahirkan.




Kata Mutiara




Kita tidak akan pernah tahu, sebelum kita melakukannya. Ingatlah satu hal, usaha yang kita lakukan akan sebanding dengan hasilnya.


Jangan cuma berandai-andai atau membayangkan sesuatu, lakukanlah, mungkin apa yang kamu lakukan itu akan berakhir bahagia.

Berusahalah sekuat yang kamu bisa, yakinlah, Tuhan tidak akan berdiam diri.


Jangan menyerah atas hal yg kamu anggap benar meskipun terlihat mustahil. Selama ada kemauan, Tuhan kan berikan jalan.

Bersyukur dan ikhlas menerima apa yang di berikan Tuhan kepada kita, Niscaya hikmahNya tidak akan berhenti mengalir.


Cinta sejati tak datang begitu saja. Banyak proses yg harus dilalui bersama, menderita, menangis, dan tertawa bersama.

Terkadang apa yang kita fikirkan tidak sejalan dengan apa yang kita lalukan.


Belajarlah jujur pada diri sendiri, lakukan apa kata hati, sehingga kamu tidak perlu lagi menyembunyikan apapun dalan hidupmu

Betapa indahnya jika setiap detik yang kita habiskan, menjadi berarti bagi orang lain dan diri sendiri.


Jangan takut mencoba, kesalahan adalah guru terbaik jika kamu jujur mengakuinya dan mau belajar darinya.

Hidup penuh maaf adalah jalan bagi kelapangan dan kedamaian jiwa.


Tersenyumlah dalam mengawali hari, karena itu menandakan bahwa kamu siap menghadapi hari dengan penuh semangat!

Sesulit apapun masalah yang kita hadapi, ia harus diselesaikan, bukan dihindari.


Tegas akan diri sendiri, buang pikiran negatif dan lakukan yang baik. Kegelisahan hanya milik mereka yang putus asa.

Ketika kamu berharap yang terbaik tapi kamu hanya mendapat yg biasa, bersyukurlah kamu bukan yg terburuk.


Hal yang paling sulit adalah mengalahkan diri sendiri, Tapi itu bisa kamu mulai dengan memaafkan diri sendiri.

Sahabat adalah seseorang yg selalu membuat hatimu bahagia. Sahabat selalu membuat hidup jauh lebih menyenangkan.


Terkadang, yang diinginkan sebenarnya tidak dibutuhkan, sedangkan yang dibutuhkan tidak bisa dimiliki. Tapi Tuhan, tahu apa yang terbaik.

Maafkan diri sendiri. Jangan menyesali kesalahan. Maaf itu mengobati hati dan mendamaikan diri.


Jangan pernah iri dengan apa yg orang lain miliki, Setiap orang punya masalahnya sendiri, bersyukurlah untuk hidup ini.

Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain. Iri hati hanya membuat jiwamu gelisah. Jadilah diri sendiri.


Setiap perbuatan yang membahagiakan sesama adalah suatu sikap yang mencerminkan pribadi yang mulia.

Sahabat bukan tentang siapa yg telah lama kamu kenal, tapi tentang siapa yg menghampiri hidupmu dan tak pernah meninggalkanmu.


Jangan pernah merasa dirimu tak cukup baik, karena bagi seseorang, kamu adalah yang terbaik.

Mungkin kamm tidak menyadarinya, tapi hal paling kecil yang kamu lakukan dapat membawa dampak sangat besar bagi orang lain.


Masalah tidak akan menjadi rumit jika kamu bisa menyikapinya dengan sabar dan dengan kelapangan hati.

Bangkitlah dari kesedihan, karena kesedihan adalah proses yang harus dilalui untuk menuju kebahagiaan.


Dari hal-hal baik, belajarlah untuk mengucap syukur. Dari hal-hal buruk, belajarlah untuk menjadi kuat.

Jika ada Kata Kata Mutiara yang lain, akan segera di tambahkan.

by Facebook Comment

Sunrise di Puncak Gunung

Sunrise di Puncak Gunung
 Oleh: Agnes M. Luther

Cahaya mentari pagi membelai lembut pipiku melalui celah-celah jendela kamar. Telepon rumah terus berdering karena tidak ada yang mengangkatnya. “Uh, mana orang-orang?” pikirku. Aku melangkah ke luar untuk mengangkat telepon. “Halo, selamat pagi!” kataku. “Pagi...Wah, tuan putri baru bangun, yah? Mentang-mentang lagi libur. Hahahaha...” kata seorang pria di balik telepon yang suaranya tak asing lagi. Itu Kak Rein. Dia kakak sepupuku yang sangat usil. Tapi aku sangat dekat dengan dia. Kami bercakap-cakap agak lama, sampai akhirnya ia memutuskan pembicaraan karena suatu urusan. Lalu aku menuju kamar mandi.

Siang harinya, seseorang mengetuk pintu rumah. Dengan spontan aku melangkah membuka pintu. Ternyata Mama. Tapi Mama tidak sendiri. Dia bersama dua orang pria. Dan seorang di antaranya adalah orang yang menelponku tadi pagi. “Fasya, lihat siapa yang datang! Mama baru menjemputnya di bandara. Kamu temani kakakmu dulu, ya. Soalnya Mama harus kembali ke kantor.” Jelasnya panjang lebar. Setelah Mama pergi kami masuk ke dalam rumah. “Oh iya, dek, kamu masih ingat Alan, ‘nggak?”

Aku memandangi orang yang berdiri di samping Kak Rein. Ia melihatku dengan wajah yang ramah sambil tersenyum. “Kak Alan! Yah, aku ingat sekarang.” jawabku dengan nada yang agak keras. Kak Alan itu sahabat Kak Rein dari kecil. TK, SD, SMP, SMA, bahkan sekarang saat kuliah mereka selalu bersama-sama. Rumah mereka di Bandung juga berdekatan. Makanya mereka sudah seperti saudara. Aku mengenal Kak Alan sewaktu aku berkunjung ke rumah Kak Rein. Kalau diperhatikan, sifat mereka sangat bertolak belakang. Kak Rein yang super usil, kocak, dan lucu, sementara Kak Alan lebih ramah, tenang, dan pendiam. Heran persahabatan mereka bisa awet.

“Eh, besok kamu ikut, ‘nggak?” tanya Kak Alan kepadaku. “Ikut? Emangnya mau ke mana, Kak?”. “Loh, Rein belum bilang? Besok rencananya kami mau ke gunung yang dekat di daerah ini.” Aku memalingkan pandangan ke Kak Rein. “Jangan, Lan. Dia ‘nggak usah di ajak. Entar bikin repot!” celotehnya. “Udah, Sya. Kamu ikut aja. Kalau Rein ‘nggak mau ngajak kamu biar aku aja. Ikut, ya?” tambah Kak Alan. “Gunung?”

Aku tersenyum mendengar kata itu. Aku teringat gurauan yang kuucapkan ketika berumur sembilan tahun, “Orang yang nanti menjadi cinta sejati aku adalah orang yang mau mengajakku ke gunung dan bisa melihat sunrise alias matahari terbit bersama dia”. “Hey! Kamu ikut atau ‘nggak?” tanya Kak Rein membuatku terkejut. “Iya, aku ikut. Tapi boleh bawa teman, ‘nggak?”. “Boleh, asalkan cantik. Hahaha..!” canda Kak Rein. Kami hanya bisa tertawa melihat tingkahnya yang selalu membuat saraf ketawa berdenyut. Aku masuk ke kamar dan mengambil handphone untuk menghubungi Rhena, sahabatku. Aku mengajaknya untuk ikut bersama kami ke gunung. Untungnya dia tidak menolak dan sangat senang. “Sekarang saatnya tidur. Besok harus bangun cepat buat nyiapin semuanya.” kataku.

Keesokan paginya aku bangun dan menuju kamar yang di tempati Kak Rein dan Kak Alan. Letaknya persis di samping kamarku. Aku mengetuk pintu kamar sampai mereka bangun. Lalu aku melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan. “Kamu lagi ngapain? Ada yang bisa dibantu?” tanya seseorang dari belakangku. “Eh, Kak Alan. Aku lagi nyiapin sarapan, Kak. Dan sepertinya aku bisa sendiri.” jawabku. “Oh, kalau gitu Kakak ke kamar mandi dulu,ya!”. Aku mengangguk. Ia pun berlalu dari pandanganku.

“Hmmm, semuanya udah beres, nih! Bekal dan perlengkapan yang diperlukan udah siap. Tinggal nunggu yang lain.” Tak lama Kak Rein dan Kak Alan muncul dengan menenteng ransel yang lumayan besar. “Sya, tendanya udah siap, belum?” tanya Kak Rein . “Oh, iya. Tunggu, aku ambil dulu, Kak!”. Aku berlari ke belakang untuk mengambil tanda. “Ini, Kak.” kataku sambil menyodorkan tenda. “Kita berangkat sekarang?” tanya Kak Alan. “Sebentar, Kak. Aku masih nungguin Rhena”. Tiba-tiba Rhena muncul dari balik pintu dengan tergesa-gesa. “Aduh! Maaf, ya. Tadi macet.” jelasnya. “Sekarang semuanya udah siap. Kita berangkat, yuk!” kata Kak Rein. Setelah berpamitan dengan Mama kami bergegas ke mobil. “Biar Kakak yang nyetir. Tapi Rhena, kamu duduk di depan, ya?” goda Kak Rein.

Kami pun mengikuti pintanya. Mobil mulai berjalan meninggalkan rumah. Pemandangan saat memasuki kaki gunung sangat indah dengan sawah yang bertumpuk dan udara yang segar. Kak Rein memarkirkan mobil di halaman rumah warga setempat setelah kami meminta izin. Itu karena kendaraan tidak bisa memasuki lereng gunung. Kami mulai berjalan melewati jalan setapak. Kak Rein selalu sibuk menggoda Rhena. Sementara aku dan Kak Alan lebih menikmati keadaan sekitar. Tak jarang pembicaraan singkat muncul di antara kami.

“Eh, di sana ada kupu-kupu yang cantik, Kak!” seruku. Aku berlari ke arah kupu-kupu yang berwarna biru itu. “Hati-hati!” teriak Kak Alan. Namun, karena terlalu tergesa-gesa kakiku terantuk oleh sebuah batu dan aku terjatuh ke sebuah lubang yang dangkal. Lututku cidera terkena batu yang ada dalam lubang itu. Seketika aku sulit berdiri. Kak Alan segera mengangkatku dan memapahku. Kak Rein dan Rhena hanya melihat peristiwa itu. Kak Alan mendudukkanku di bawah pohon dan membalut lututku yang terus mungucurkan darah dengan perban yang ada di ranselnya. Aku merasa lebih baik. Tapi kakiku masih terasa sakit untuk berjalan. Melihat kondisiku Kak Alan memutuskan untuk membantuku berjalan. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Hari semakin sore, tapi kami belum juga tiba di puncak. Cahaya jingga matahari terbenam tampak di selah-selah pohon cemara yang menjulang. Kondisiku yang seperti ini memperlambat perjalanan kami karena harus berhenti untuk mengistirahatkan kakiku. “Eh, puncaknya udah kelihatan, tuh!” seru Kak Rein seraya menunjuk. Kami mempercepat langkah dan akhirnya mendapati tempat yang cocok untuk mendirikan tenda, tepat di puncak gunung. Kak Alan mendudukkanku lagi dan membantu Kak Rein mendirikan tenda. Ada dua tenda yang didirikan. Satu untuk Kak Rein dan Kak Alan, dan yang satunya untuk aku dan Rhena.

Hari sudah malam. Kak Rein mengeluh kelaparan. Tak ada waktu lagi untuk mencari kayu bakar dan memasak makanan. Aku mengeluarkan beberapa kotak yang berisi makanan. Aku memang sengaja membawa makanan itu buat berjaga-jaga. Kak Rein langsung menyantapnya seperti orang yang belum makan selama seminggu saja. Kami hanya bisa tertawa melihat tingkahnya. “Akhirnya kenyang juga. Lan, kita tidur, yuk!” kata Kak Rein. Aku dan Rhena sudah dari tadi masuk ke tenda kami.

Suasana menjadi hening dan tenang. Yang terdengar hanya suara binatang malam yang seolah-olah tengah bercakap-cakap. Aku tak bisa tidur. Kakiku terasa sangat sakit. Aku memutuskan untuk ke luar tenda dan duduk menikmati angin malam yang menghembus. Tiba-tiba terdengar suara lembut menyapaku. “Kamu ngapain? Kok belum tidur?” tanya Kak Alan. “Kakiku masih sakit, Kak. Makanya ‘nggak bisa tidur.” jawabku. Ia berjalan menghampiriku dan duduk di sampingku. Entah mengapa jantungku berdebar lebih cepat. “Ah, mungkin karena rasa sakit di kakiku saja.” pikirku dalam hati.

“Eh, ngomomg-ngomong terima kasih ya, Kak. Tadi udah bantuin. Maaf juga udah nyusahin Kakak”.

“Iya, ‘nggak usah dipikirin. Tapi, lain kali harus hati-hati, ya!” katanya dengan senyum khas yang menghiasi wajahnya yang tampan itu.

Malam itu kami hanya berbincang-bincang. Saling bertukar pengalaman. Tak jarang juga diselingi tawa kecil. Ada perasaan yang aneh kalau sedang dekat dengannya. Aku tidak tahu apa itu. Yang jelas rasanya nyaman sekali. “Ssssttt..sssttt!” Ia menghentikan pembicaraan. “Coba deh, kamu lirik ke sana.” katanya membuatku heran. Saat aku menoleh aku merasa terkejut dan takjub. Di arah timur tampak cahaya kuning keemasan yang menembus titik-titik kabut dan menyilaukan mata. Ya, sunrise. Aku sangat kagum melihat peristiwa itu. Apalagi diiringi kicauan burung yang seakan gembira menyambut sang raja. Aku memandangi wajah Kak Alan yang turut larut dalam suasana itu. Apa ini orang yang selama ini aku harapkan? Orang yang duduk berdampingan denganku menatap matahari terbit.

Ia memalingkan pandangannya ke arahku, membuat aku tersadar dari lamunanku itu. “Aku sayang sama kamu, Fasya...” katanya yang sontak membuat jantungku seakan berhenti. Wajahku menjadi pucat. Sakit yang ada di kakiku tak terasa lagi. Mengalir bersama keringat dingin yang memenuhi sekujur tubuh. Tak percaya dengan kalimat yang baru aku dengar. “Aku ‘nggak tahu kapan perasaan ini muncul. Yang jelas aku sayang sama kamu udah lama”. Aku masih diam terpaku. Mulutku seakan disumbat oleh sesuatu, sehingga aku tidak mampu membalas kata-katanya.

“Mmm...” gumamku memberanikan diri. “Aku juga merasakan hal yang sama, Kak. Rasanya ada hal yang aneh kalau berhadapan dengan Kakak. Tapi aku sendiri nggak bisa jelasin apa yang aku rasain itu”. Aku menghela nafas setelah mengungkapkan semuanya. Wajahnya semakin berseri-seri setelah mendengar perkataanku. Ia memalingkan lagi pandangannya ke arah matahari yang semakin lama semakin terang. Harapan akan cinta di masa kecil, kini dapat kuraih. Aku menggenggamnya dengan erat. Tak akan pernah kulepaskan. Walaupun senja nanti matahari terbenam, namun matahariku ini tak akan kubiarkan terbenam di ufuk barat, sampai kapan pun.

“Wah, udah pagi! Cerah banget nih!” kata Kak Rein keluar dari tenda. Rhena juga terbangun. “Eh, kalian udah bangun duluan, ya? Wah..wah...kok ‘nggak bangunin kakak sih, Sya?” tanya Kak Rein ke arah kami. Aku dan Kak Alan hanya saling memandangi dan melempar senyum. Rasanya hal yang kami alami itu hanya cukup untuk kami berdua. Kak Rein dan Rhena memperhatikan kami dengan tanda tanya besar di atas kepala mereka.
__***__
by Facebook Comment

Hari Terakhir Bersamamu

Hari Terakhir Bersamamu
Oleh: Rahmawati Dewi

Aku Rama, siswi SMA 1 Manokwari. Sekarang aku duduk di kelas 10. SMAN 1 Manokwari adalah SMA terfavorit di kota Manokwari. Aku mempunyai 2 sahabat yang aku sayangi yaitu Echa dan Rasty. Kami slalu bersama dalam keadaan suka maupun duka dan kami juga selalu kompak.

Di Kantin………..
“Cha, Rama kok tumben tidak ke kantin?” Tanya Rasty pada Echa.

“Ooh, aku baru ingat tadi Rama ingin ke perpustakaan katanya sih dia mau pinjam buku !”Jawab Echa.

“Tumben banget, itu anak mau pinjam buku.”Balas Rasty sambil tertawa kecil.

“Iya sih, kalau gue pikir-pikir juga loe ada benarnya ,Ras.”Jawab Echa sambil mengaduk es teh manisnya.

Sementara di perpustakaan…………….

“Aduh, mananya buku tentang sejarah Perang Dunia 1 ?” Kesalku.

Saking kesalnya dan terburu-buru, Rama tidak sengaja menabrak seorang cowok .

“Braakkkkkkkk”.

“Sorry ya, gue tidak sengaja nabrak loe !”kataku meminta maaf.

“Ahhh, tidak apa-apa, gue yang salah kok tidak lihat kalau ada kamu di situ .“Kata cowok itu menyalahkan dirinya.

“Oh ya, kamu baru pindah ke sini ya?” Tanyaku padanya.

“Iya, aku baru pindah ke sini.Aku baru pindah dari Jakarta.”Jawabnya.

“Ohh, sampai aku lupa, perkenalkan namaku Rama, Namamu siapa?” Tanyaku lagi.

“Namaku Yudha.”Jawabnya.

Asyik mengobrol, tiba-tiba Echa dan Rasty memanggilku.

“Rama,Rama,Rama.” Panggil Echa dan Rasty.

“Ohh kalian berdua, ada apa ? Jawabku.

“Tidak ada apa-apa kok , kita hanya mau nemani kamu di perpustakaan kok ! Ujar Echa.

“ Rama, itu siapa ?” Tanya Rasty.

“Iya, kenalin ini Yudha dia baru pindah kesini!” Jawabku pada ke 2 sahabatku.

“ Yudha, perkenalkan mereka berdua sahabatku, yang agak tomboy ini namanya Echa dan yang agak cerewet ini Rasty namanya !” Kataku pada Yudha.

“Oh iya!”Kata Yudha sambil mengulurkan tanganya pada Echa dan Rasty.

“Rama, aku permisi ke kelas dulu ya, habis aku harus membawa buku-buku ini !”Kata Yudha sambil membawa buku-buku yang tadi dia pinjam.

“Iya, Yud ! Balasku.

Yudha akhirnya meninggalkan kami bertiga yang berada di perpustakaan. Dan bel berbunyi………..

“Hey kalian berdua, jangan bengong aja di situ, ayo kita masuk ke kelas nanti kalau tidak cepat kita dapat marah dari Bu Rina Tau !” Kataku sambil menarik tangan kedua sahabatku ini.

Di kelas……….

“Selamat siang, anak-anak !” Kata Bu Rina guru PKnku .

“Siang, Bu !” jawab semua murid.

“Mari, kita lanjutkan pelajaran kita yang lalu”! Kata Bu Rina sambil membuka buku pelajaran.

“Baik, Bu !”Jawab semua murid.

Teeng……Teeng……Teeng……
Lonceng bubar sekolah di SMAN 1 Manokwari

“Rama, kamu pulang naik apa ?” Tanya Rasty padaku.

“Aku naik ojeg, kalau kamu Ras ?” Tanyaku pada Rasty.

“Kalau gue naik taksi !” Jawabnya padaku.

“Ehhh, Echa udah pulang ?“ Tanyaku pada Rasty lagi.

“Iya, dia udah pulang duluan ,dia tadi jemput sama pacarnya.”Kata Rasty sambil mengibas-ngibaskan rambutnya.

“OOOOhhhhhh.”Kataku pelan.

Beberapa menit kemudian tiba-tiba ada mobil berwarna hitam berhenti didepan kami berdua.

“Rama, ayo kuantar kamu dan Rasty pulang”Kata seorang cowok didalam mobil yang ternyata adalah Yudha.

“Makasih ya ,Yud!”Balas kami berdua.

Kemudian kami berdua masuk ke dalam mobilnya. Rasty diantar duluan kerumahnya setelah itu baru aku.
Tak lama kemudian kami sampai di depan gerbang rumah Rasty…..
“Makasih ya,Yud !”Kata Rasty pada Yudha.

“Sama-sama !”Balasnya.

Di dalam mobil kami berdua saling berbincang………

“Yud, aku mau tanya, kamu itu kelas berapa sih?”tanyaku.

“Aku kelas 11, Rama !” Jawabnya padaku.

“Hmmmmm,, aku kira kamu kelas 10 !”balasku

“Masa aku kelas 10, kamu tidak bisa lihat muka ku kan sudah lebih dewasa sedikit !” Jawabnya agak kesal.

“Baik, aku minta maaf, ya ! Berarti aku harus memanggilmu Kakak Yudha dongg !!” Balasku yang agak menggodanya.

“Ya, iyalah !”Jawabnya agak ke-GR an.

Akhirnya tidak begitu lama menunggu, aku sampai dirumah. Aku turun dari mobil Yudha dan mengucapkan……

“Makasih ya ,Yud!”Ucapku.

“Iya,Sama-sama !”Jawabnya.

Kemudian mobilnya perlahan mulai meninggalkan rumahku.

Didalam kamar Rama terdengar lagu Westlife- I Lay My Love you.

Tiba-tiba mamaku mengetuk pintu kamarku.

“Rama, ada teman-temanmu di ruang tamu sana !” teriak Mamaku.

“Baik, Ma!” Jawabku sambil membuka pintu kamar. Dan berjalan menuju ruang tamu.

“Rama, lama banget loe, kita bertiga nie udah capek nungguin kamu!”Kata Rasty dan Echa agak kesal.

“Sorry, ya! Kalian bertiga kesini mau ngapain?”Tanyaku.

“Begini Rama, aku mau ngajak kamu, Echa dan Rasty makan malam di restoran !”Kata Yudha.

“Ok deh, tunggu sebentarnya aku ganti baju dan sekalian pamit dulu dengan mamaku dulu, ok !” Kataku pada mereka bertiga.

“Baik !”Jawab mereka bertiga.

Aku memakai baju dress berwarna putih dengan rompi berwarna pink dan jins berwarna hitam.

“Ma, aku pergi dulu ya.”Kataku pamit.

“Iya nak,hati-hati ya !”Kata Mama.

“WoooW, kamu cantik sekali malam ini, Rama!”Kata Echa.

“Iya, benar apa yang dikatakan Echa !”Sambung Rasty.

“Makasih, ya ! Ayo, teman-teman kita pergi !”Ucapku semangat.

“Ok !”Jawab mereka bertiga serempak.

Akhirnya kami sampai di Restoran tersebut………

Disana kami berempat memesan steak dan jus lemond mint.
Dan ada kejadian yang tidak diduga yaitu………

“Rama, ada yang aku ingin katakan padamu!”Ujar Yudha.

“Apa, Yud?”Tanyaku penasaran.

“Aku suka kamu dan maukah kamu jadi kekasihku!”Tanya Yudha sambil memegang tanganku.

“Ehmmm, gimana,ya??” Jawabku ragu.

“Ayo, terima aja ini kesempatan bagus yang tidak mungkin datang untuk kedua kalinya, loh !”Ucap Echa dan Rasty.

“Maaf ya, Yudha. Aku tidak bisa menerimanya karena aku menganggapmu hanya seorang sahabat. Kamu bisa terima , kan !”Ujarku sambil melepaskan tangan Yudha.

“Baiklah, Rama. Aku terima keputusanmu itu !”Kata Yudha sedikit kecewa.

Keesokan harinya Yudha menghilang tanpa kabar. Beberapa hari kemudian terdengar kabar bahwa Yudha sakit parah.

“Rama,Rama,Rama….!”Teriak Echa dan Rasty.

“Ada apa sih teriak-teriak!” Ujarku.

“Yudha, dia sakit parah !” teriak Rasty.

“Apaaaaa, sekarang dia dimana ?’’ Kataku sedikit kaget.

“Dia sekarang ada di RS Melati !” Ujar Echa.

“Ayo, kita sekarang ke sana !” Ucapku sambil menarik tangan kedua sahabatku.

“Iya, tapi ini masih jam sekolah, Ra!”Gerutuk Rasty sambil menghentikan langkahnya.

“Benar. Nanti pulang sekolah deh kita ke sana. Sekarang kamu tenangin diri kamu dulu,ya !”Ucap Echa.

Pulang sekolah mereka langsung pergi ke RS Melati. Sesampainya disana mereka menanyakan tempat dimana Yudha dirawat kepada resepsionis dan mereka segera ke ruangan dimana Yudha dirawat.

Dan…………………….

“Yudha, ini aku Rama. Maafkan aku karena membuat kamu jadi begini !”kataku sambil meneteskan air mata.

“Tidak apa-apa Rama. Aku baik-baik aja, kok ! Rama, bolehkah aku bertanya padamu!”Kata Yudha sambil menggenggam tanganku.

“Boleh, apa yang kamu mau tanyakan padaku ?”Tanyaku.

“Apakah kamu mencintaiku ?”Tanya Yudha padaku.

“Sebenarnya, aku mencitai kamu Yudha, sejak pertama kali kita bertemu tetapi aku malu untuk mengungkapkannya padamu !”Ucapku sambil memeluknya.

“Akupun juga mencintaimu. Rama,bolehkah aku minta satu permintaan terakhir padamu?Tanya Yudha padaku.

“Apa itu,Yud?”Balasku padanya.

“Aku ingin pergi ke pantai bersamamu.”Jawabnya padaku.

“Kapan kamu mau perginya?”Tanyaku.

“Hari ini juga kalau bisa.”Jawabnya lagi.

“Tapi kan, kamu lagi sakit ?”Ucapku padanya.

“Ini untuk terakhir kalinya, Rama.”Kata Yudha padaku.

Tepatnya pukul jam 5 sore mereka tiba di pantai, mereka menyusuri pantai bersama-sama.

“Aku bahagia sekali hari ini. Terimakasih Rama telah membuatku bahagia untuk hari ini.”Ucap Yudha padaku.

“Sama-sama, Yud.”Ucap ku sambil menggenggam tangan Yudha.

“Aku sangat mencintaimu, Rama.”Kata Yudha sambil memelukku.

“Aku pun sama,Yudha.”Ucap ku sambil menitihkan air mata.

Keesokan harinya terdengar kabar yang mengejutkan, bahwa Yudha meninggal dunia karena penyakitnya. Orang yang paling sedih dan ditinggalkan adalah Rama.

“Yudha, maafkan aku….! Dan mudah-mudahan kau tenang di sana.”Ucap Rama di batu nisan Yudha.

‘’Selamat Jalan Yudha, aku yakin sekarang kau bahagia disana’’.
````````````````````````Tamat``````````````````````````


by Facebook Comment

CINTA TAKKAN USAI

CINTA TAKKAN USAI
Oleh: Efih Sudini Afrilya

Masih belum bisa kulupakan memory 5 tahun yang lalu, pria yang sampai saat ini membuatku selalu memikirkannya. Bukan hanya itu, sampai saat ini aku masih mengharapkannya. Dia bukan pria yang sempurna, tapi dia mampu mengunci rapat hatiku.
CERPEN CINTA TAKAN USAI

Lima tahun yang lalu, aku benar-benar yakin dan berani mengklasifikasikan perasaan yang kumiliki ini sebagai gejala jatuh cinta. Untuk yang pertama kalinya aku berani menyatakan perasaan pada seorang pria. Pada saat hari valentine, aku memberikan sebatang coklat dan sepucuk surat tanpa identitas pengirim. Siang malam aku memikirkan reaksi dia saat menerima coklat dariku, apa bahagia atau marah. Kerena aku tau betul, saat itu dia memiliki kekasih.

Tidak ada yang bisa kulakukan setelah itu, hanya menunggu hingga saatnya dia tau siapa wanita pengecut yang telah memberinya coklat dan surat saat valentine. Hingga harapanku hampir musnah ketika aku melihat dia sedang bersama kekasihnya. Aku hanya bisa menangis dan berusaha mengubur cintaku dalam-dalam. Tapi rasanya sangat sulit, semakin aku berusaha melupakan dia, semakin sakit hatiku.

Hingga suatu malam aku mendapatkan pesan dari nomor yang tidak aku kenal, dan ternyata itu dia. Aku sangat bahagia saat itu, tidak kuduga pria itu bisa menghubungi aku. Setelah itu kami sering mengirimi pesan, rasanya seperti di surga bisa berhubungan dengan pria yang kucintai. Meskipun aku tau dia masih memiliki kekasih.

Lama setelah itu, dia mengungkapkan perasaan sayangnya padaku, tapi hanya sebatas sayang dari seorang kaka pada adiknya. Aku tidak bisa melupakan kata-kata itu, setelah sekian lama aku mencintainya, dia hanya menganggapku adik saja. Aku tidak bisa terus-terusan memendam perasaanku, hingga suatu saat aku meminta dia untuk melakukan suatu hal yang bisa membuatku membencinya. Dan dia benar-benar melakukannya, dia menghilang begitu saja dan tidak pernah menghubungiku. Sampai saat ini.

Dan sampai saat ini, aku masih mencintainya.
by Facebook Comment